Tuesday, June 06, 2006

Mencermati Pencemaran Sungai Semarang

Mencermati Pencemaran Sungai Semarang

Pola hidup bersih dan sehat hanya tercipta jika di dukung dengan lingkungan yang bersih dan sehat pula. Lingkungan itu meliputi perumahan, jalan, kebun, dan sungai atau aliran air.
Berkaitan dengan kebersihan lingkungan, Semarang bisa dibilang buruk. Kenapa? Padahal program “resik-resik kutho” yang digalakkan pemerintah kota, telah mengantarkan ibukota Provinsi ini memperoleh penghargaan Adipura Kencana.
Ya. Program resik-resik kutho memang telah mengantarkan semarang meraih penghargaan. Namun program itu belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat dan menyadarkannya akan pentingnya hidup bersih dan sehat. Resik-resik kutho hanya ada di wilayah yang di blow up oleh media. Bagaimana dengan yang lain?
Rob yang seringkali terjadi setiap kali turun hujan, bukanlah suatu kebetulan dan gejala alam yang harus diterima begitu saja. Karena itu terjadi akibat pendangkalan sungai-sungai dan tersumbatnya saluran air yang ada.
Pendangkalan sungai yang ada, bisa dilihat misalnya di sungai Banjir Kanal Timur dan sungai Barito. Di kedua sungai ini bahkan tidak hanya terjadi pendangkalan. Penyempitan dan bau tak sedap (busuk) akibat sampah yang dibuang sembarangan, juga menjadi pemandangan yang sangat meresahkan.
Tidak hanya di kedua sungai ini. Kebanyakan sungai di semarang, kini sudah tercemar oleh limbah dan dijadikan pembuangan sampah oleh orang-orang yang tidak mau tahu akan pentingnya lingkungan yang bersih.
Kondisi tersebut, jika terus dibiarkan, akan berakibat buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Selain bisa menjadi penyebab rob, juga bisa menyebabkan percepatan penyebaran penyakit.
Penyebaran penyakit itu terjadi karena sungai-sungai yang kotor, berpotensi besar dijadikan sarang nyamuk. Selain itu, bau busuk yang dikeluarkan, juga bisa berakibat buruk bagi pernafasan.
Karena itu, pemerintah kota semarang harus segera mengambil tindakan. Sosialisasi terhadap pentingnya hidup bersih harus digalakkan. Pembersihan sungai-sungai dan pelarangan pembuangan sampah di sungai, harus segera dilaksanakan. Syukur nanti ada SK Walikota yang khusus membahas masalah kebersihan lingkungan berikut sanksi yang bakal diterima jika melanggarnya.
Dengan begitu, maka pencemaran lingkungan terutama pencemaran sungai, sedikit demi sedikit akan terkikis dan hilang. Akhirnya hidup bersih dan sehat tidak akan lagi sekadar wacana di ruang-ruang diskusi dan seminar tanpa kenyataan. Tapi juga dapat diwujudnyatakan. (Rosidi)

Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang


Jepang , salah satu desa di kabupaten Kudus, barangkali kurang dikenal masyarakat luas, kecuali masjid “Al-Makmur” yang merupakan salah satu peninggalan Wali yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di kota kretek ini.
Selain itu, adalah tradisi mengambil “Banyu Salamun” di masjid tersebut pada malam rabu pungkasan din bulan Shafar (Jawa: Sapar). Konon kabarnya, air dari sumur masjid tersebut bisa dijadikan untuk mengobati berbagai penyakit. Maka tidak heran jika pada saat malam rabu pungkasan, ribuan orang dari desa Jepang dan desa-desa tetangga berduyun-duyun mengambil air di masjid tersebut.
Namun jangan salah. Jepang tidak hanya punya masjid wali dan tradisi rabu pungkasan. Disana ada pula kerajinan anyaman bambu yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di kota kudus.
Bambu yang bagi sebagian besar orang tidak mempunyai peran yang begitu berharga, di tangan masyarakat Jepang , ia menjadi alat untuk berdikari dan menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepang, Kere, Besek, Ekrak, Dunak dan Kalo, adalah sedikit kerajinan masyarakat Jepang yang masih dibuat sampai kini. Dari tangan-tangan terampil masyarakatnya, sebuah anyaman bambu yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi tercipta.
Perlu perhatian
Bambu, adalah materi (hyle) sebagaimana benda-benda lain yang tanpa guna apabila tidak ada tangan-tangan trampil yang memberinya bentuk (morphe).
Meminjam tesis Aristoteles (384-322 SM), bambu merupakan materi dengan kemungkinan terbuka, menerima untuk ditentukan oleh suatu bentuk. Lewat bentuk itulah nanti materi ditentukan. Bentuklah yang membedakan pohon, gelondongan kayu, bambu, dan lain sebagainya.
Nah, bambu di desa Jepang , telah menjadi suatu bentuk yang sangat eksotik dengan nilai seni yang sangat menawan. Di desa ini, bambu yang biasanya sekadar digunakan untuk jembatan darurat seperti pada waktu terjadi Banjir di Dawe beberapa waktu lalu, atau sekadar sebagai penyangga (soko) rumah yang terbuat dari gedeg (kepang), di desa itu bisa menjadi berbagai benda dengan beragam bantuk.
Anyaman bambu Jepang adalah kerajinan dan warisan (seni) tradisional yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian agar tidak punah di kemudian hari.
Kini, perhatian terhadap warisan leluhur itu sudah harus dilakukan. Karena semakin sedikitnya orang yang bisa membuat kerajinan tangan dari bambu tersebut.
Menyelamatkan kerajinan anyaman bambu di desa Jepang , mutlak dilakukan. Ini j ika pemerintah tidak ingin kehilangan warisan leluhur yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi itu. Hingga kerajinan itu tidak akan berpindah hak ciptanya ke daerah atau bangsa lain, sebagaimana tempe yang hak ciptanya dimiliki oleh bangsa Jepang . (Rosidi)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home